Tap….tap…tap….
Luna mempercepat laju langkahnya, sambil sesekali menengok ke belakang. Jantung Luna serasa mau melompat dari tempatnya. Langkahnya semakin cepat seiring suara langkah di belakang semakin mendekat. Sesekali bibir Luna melapalkan do’a yang diingatnya. Dan huhhh akhirnya Luna sampai di depan rumahnya. Luna lihat sekitar, tak ada siapa-siapa.’ Mungkin dia sudah pergi ,’ pikir Luna . Saat Luna berbalik untuk masuk, Luna melihat dia. Dia sosok yang selalu menghantuinya, sosok yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya. Dan sekarang dia ada di sini tepat di depan Luna.
Tubuh Luna bergetar hebat saat sosok itu bergerak melangkah ke arahnya. Kaki Luna seperti jeli, tak bisa digerakan.
‘Siapa pun tolonglah aku, ‘ jerit Luna dalam hati.
Luna terlihat sangat ketakutan sekali. Yang bisa dilakukannya hanya memejamkan mata. ‘Oh tuhann tolonglah aku,’ Do’a Luna dalam hati.
Lama Luna menunggu, tak terjadi apa-apa. Luna membuka sedikit matanya, tak ada siapa-siapa. ‘Kemana dia? ‘ pikir Luna. Tanpa berpikir panjang langsung saja Luna berlari ke dalam rumah. ‘Hupp selamat…’ syukur Luna dalam hati.
🚫🚫🚫
Kringggg……
Suara alarm menggema di sebuah kamar bernuansa soft pink itu. Di dalamnya ada seorang gadis cantik bersurai coklat sebahu yang sedang terlelap di atas kasur. Gadis itu adalah Natasha Aluna.
Diraihnya alarm tersebut dan segera Luna matikan. Matanya melotot saat dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7 kurang 15 menit.”OMG…. gue telatt..gue telattt,” pekik Luna panik.
Buru-buru Luna melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Semalam Luna tak bisa tidur, karena terus memikirkan sosok yang terus mengganggunya itu.
Setelah berpakaian lengkap Luna langsung berangkat. Bahkan Luna melupakan sarapannya yang sudah disiapkan oleh orang tuanya.
Sesampainya di sekolah Luna berlari menuju ke kelasnya yaitu kelas XI IPA 2, karena bel akan berbunyi sekitar 5 menit lagi. Mungkin karena terlalu terburu-buru Luna tak sadar bahwa di depannya ada seorang cowok yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Sehingga terjadilah tabrakan antara Luna dan cowok itu.
“Awww…. loe punya mata gak sih hah?” maki Luna.
“Maaf gue gak sengaja, lagi pula ini bukan salah gue loenya aja yang jalannya buru – buru gitu,” kata laki – laki itu tak mau kalah.
“Ya…. suka – suka gue dong. Itukan hak gue,” jawab Luna sambil berlalu.
Lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah Luna.
🚫🚫🚫
Sesampainya di kelas Luna duduk di kursinya dan langsung diserbu cerocosan Rara sahabat satu – satunya Luna.
” Lun loe tahu gak?”
“Kagak,” jawab Luna cuek sambil memasang earphone di telinganya.
“Yehhh onta gue belum selesai ngomong juga,” omel Rara.
” yaa maaf. Ada apaan sih emangnya? ” tanya Luna tanpa menatap kearah Rara.
” Katanya kelas kita bakal kedatangan murid baru dari luar negeri. Dan loe tahu apa yang lebih subhanallah lagi?”
Luna menggelengkan kepalanya tanda tak tahu atau justru tak perduli.
“Katanya murid barunya itu cowok, dan mukanya ganteng banget…” cerocos Rara.
“Oh yah? Masa?” tanya Luna.
Rara mengaguk semangat ” bodo….” sambung Luna membuat wajah Rara merengut.
” ihh loe ini nyebelin banget sih,” gerutu Rara.
Seketika kelas yang tadinya ramai kini berubah menjadi sunyi senyap bagaikan di kuburan. Bu Sukma guru yang terkenal killer itu memasuki ruangan. Dibelakangnya ada seorang lelaki tampan dengan mata biru membuat siapapun yang melihatnya terpukau.
” Selamt pagi anak – anak.”
” Pagi buuuu..”
” Hari ini kalian kedatangan teman baru. Perkenalakan nama kamu!” perintah Buk Suk kepada lelaki itu. Lelaki itu mengangguk dan mulai memperkenalkan diri.
” Perkenalkan nama gue Alvano Maurer , gue pindahan dari Belanda. Kalian bisa panggil gue Alva. Salam kenal,” ucap Alva.
” Salam kenal juga Alva….” jawab semuanya serempak, kecuali Luna yang masih asik dengan dunianya sendiri.
” Baik Alva, sekarang kamu boleh duduk disebelah Glen. Glen angkat tangan kamu!” perintah sang guru.
Seorang lelaki yang duduk di pojok belakang terlihat mengacungkan tangannya.
Alva melangkahkan kakinya ke tempat Glen duduk.
“Hayy bro salam kenal,” sapa Alva yang disambut baik oleh Glen.
“Salam kenal juga,” jawab Glen sambil melakukan tos bersama Alva.
Setelah itu Alva memilih mengeluarkan bukunya dan memfokuskan pandangannya ke papan tulis.
Tettt….tetttt…..tetttt…..
Akhirnya bel istirahat berbunyi. Setelah menghadapi pelajaran yang cukup menguras otak, Luna dan Rara memilih untuk pergi ke kantin. Seperti biasa kantin selalu penuh dengan lautan manusia yang sedang kelaparan.
” Lun loe yang cari tempat duduk dan gue yang ngantri!” Luna mengangguk.
” Loe mau pesen apa?” tanya Rara.
“Gue kayak biasa aja,” jawab Luna.
Rara menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Sepeninggalnya Rara, Luna langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin. Setelah yang dia cari ketemu, Luna segera melangkahkan kakinya ke tempat yang dia tuju.
Luna duduk di tempat itu. Luna masih memikirkan hal yang terjadi padanya semalam. Kapan dia bisa terlepas dari sosok itu.
“Woy loe kenapa dari tadi ngelamun terus?” tanya Rara.
“Gue gak ngelamun kok,” elak Luna.
“Bohong loe.”
“Bener gue gak ngelamun.”
“Ya..ya.. lah terserah,” pasrah Rara.
“Nih makan!” kata Rara lagi.
Setelah itu tak ada percakapan lagi diantara keduanya.
“Hay…gue boleh duduk disini gak?” tanya seseorang memecah keheningan keduanya. Dan ternyata orang itu Alva.
“Boleh. Boleh banget malah,” jawab Rara semangat. Setelah itu mereka makan sesekali diselingi candaan Alva dan Rara.
“Lun boleh minta nomor WA loe gak?” tanya Alva, tak ada jawaban dari Luna. Rara mencoba mengembalikan Luna dari lamunannya dengan cara menepuk lengan Luna. Hal itu membuat Luna terlonjak kaget.
“Ehh apa?” Bingung Luna.
“Noh si Alva tanya, katanya dia minta nomor WA loe.” Kata Rara mengulangai pertanyaan Alva barusan .
“Buat apa?”
“Yaa.. kan kita sekarang temen sekelas, jadi kalau ada tugas gue bisa tanya-tanya sama loe. Katanya loe peringkat pertama di kelas,” jelas Alva panjang lebar.
“Loe minta aja ke Rara,” jawab Luna.
“Oke. Ra mana nomornya Luna?” pinta Alva.
“Ya ..ya bentar dong.”
Tanpa mereka sadari, disudut lain kantin ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka, atau lebih tepatnya mengawasi Luna.
🚫🚫🚫
Saat bel pulang berbunyi Luna memilih untuk diam sebentar di dalam kelas sendirian. Rara tadi harus pulang duluan karena ada keperluan keluarga. Setelah merasa keadaan di luar sudah sepi, Luna memutuskan untuk pulang. Luna berjalan sendirian di koridor. Sepertinya hanya Luna yang masih tinggal di sekolah pada jam segini. Saat melewati koridor kelas X, Luna merasa ada yang sedang mengikutinya. Luna memilih untuk mempercepat laju langkahnya. Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Luna naik ke gojek yang tadi sudah dia pesan.
Di belakangnya ada sosok yang tadi mengikuti Luna. Dia tersenyum puas karena berhasil membuat Luna ketakutan. Segera dia menaiki motor besarnya, dan melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
Luna sampai di rumahnya dengan selamat. Tampa Luna sadari, dibelakangnya ada sosok yang sedari tadi mengikutinya. Sosok itu berjalan perlahan kearah Luna.
“Hayy mine,” sapa sosok itu kepada Luna.
Seketika Luna membeku. Dia sangat hapal dengan sosok yang sekarang tepat berada di belakangnya. Perasaan Luna campur aduk antara takut tapi ada sedikit rasa rindu dalam hatinya.
Luna membalikkan badannya. Matanya melihat sebuah dada bidang yang ada di depannya. Mata Luna langsung berkaca – kaca setelah melihat sosok itu.
“Za… Za..in… jadi selama ini yang selalu ngikutin gue itu loe?” tanya Luna dengan suara bergetar.
“Kenapa loe lakuin ini sama gue, apa salah gue?” tanya Luna lagi.
“Jawab!” perintah Luna menuntut.
Sosok itu, Zain Xeimoraga masih diam seribu bahasa. Zain tak mengindahkan semua pertanyaan Luna, dia masih sibuk mengamati wajah cantik Luna. Merasa pertanyaannya tak akan pernah dijawab, Luna memilih berbalik dan masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum hal itu terjadi, Zain buru – buru mencekal tangan Luna.
“Apa?” tanya Luna.
Cup.
Zain mengecup lembut kening Luna.
“Ingat Al, kamu hanya milik aku. Dan gak ada siapapun yang boleh miliki kamu selain aku. Jadi kamu jangan pernah dekat dekat dengan cowok manapun terutama si anak baru itu,” larang Zain seenaknya. Hal itu membuat emosi Luna memuncak. Dia mencoba melepaskan tangannya yang sedang dicekal Zain. Tapi usahanya sia-sia karena cekalan Zain ternyata sangat erat.
“Lepas! Emangnya loe siapa bisa ngatur-ngatur gue kaya gini hah?” tanya Luna emosi.
Tak ada jawaban dari Zain, dia hanya menunjukan senyum miringnya. Zain melepaskan tangan Luna dari cekalannya. Kemudian dia melenggang pergi begitu saja dari hadapan Luna. Membuat Luna melongo sekaligus kesal dengan sikapnya.
“DASAR ZAIN GILA!” teriak Luna.
🚫🚫🚫
Keesokan harinya Luna pergi ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Dia berangkat pukul 06.05 WIB. Sesampainya di kelas ternyata belum ada siapa-siapa. Luna memilih untuk duduk dikursinya dan mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya. Sekitar beberapa menit kemudian terdengar seseorang memasuki kelas dan orang itu ternyata Alva.
“Hayy Luna,” sapa Alva.
“Hay…..” jawab Luna singkat.
Alva berjalan mendekat ketempat Luna duduk. Kemudian dia mendudukan dirinya dikursi yang ada di badapan Luna. Dia menghadapkan dirinya kearah Luna.
Luna mengangkat sedikit pandanganya kearah Alva.
“Ada apa?” tanya Luna.
“Gak ada apa-apa.”
“Terus kenapa loe dari tadi ngeliatin gue?” tanya Luna lagi. Tak ada jawaban apapun dari Alva.
Luna memilih kembali memfokuskan pandangannya ke novel yang sedari tadi dibacanya. Karena risih dipandangi terus, Luna kembali mengarahkan pandangannya kepada Alva.
“Loe kenapa sih, dari tadi liatin gue mulu, risih tahu gak sih loe!” emosi Luna.
Alva hanya menunjukan cengirannya, lalu beranjak daru duduknya dan memilih kembali ketempatnya.
Semakin siang semakin banyak siswa yang datang, tapi Rara sahabat Luna belum juga datang.
‘Kemana sih tuh anak? ‘ pikir Luna.
Tak lama kemudian Rara datang dengan napas ngos-ngosan. Dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
“Habis dari mana loe? Tumben telat?” Tanya Luna.
“Gue tadi bangun kesiangan,” jawabnya dengan nafas memburu. Rara mencoba mengatur nafasnya dan duduk di kursi yang ada disebelah Luna.
“Nih! minum dulu!” tawar Luna.
Rara mengambil air yang disodorkan Luna dan meminumnya sampai tandas.
Tak lama seorang guru pun datang tanda dimulainya pelajaran.
🚫🚫🚫
Saat jam istirahat tiba, Luna diminta Alva untuk menemuinya di taman belakang sekolah. Awalnya Luna menolak, tapi karena desakan dari Rara akhirnya Luna mengalah dan menerima tawaran Alva untuk menemuinya di taman belakang.
“Ada apa?” tanya Luna to the poin.
“Emmm… sebenarnya ada yang mau gue katakan sama loe,” kata Alva gugup.
Luna mengangkat sebelah alisnya.
“Sebenarnya gu..gu..e.. su..ka.. sama loe.”
Pengakuan dari Alva sontak membuat Luna terkejut.
“Kenapa loe bisa suka sama gue? Kita kan baru ketemu beberapa hari?” tanya Luna menuntut.
“Gue gak tahu kenapa gue bisa suka sama loe. Sejak loe nabrak gue di koridor, sejak saat itu gue mulai penasaran sama loe,” jawabnya gugup. Ya waktu itu yang tabrakan dengan Luna adalah Alva.
“Dan saat gue tahu kita sekelas, gue seneng banget, karena ternyata cewek yang bikin gue penasaran bisa membuat hati gue bergetar pada pandangan kedua,” aku Alva jujur. “Jadi loe mau gak jadi pacar gue?” Tanya Alva penuh harap.
“Maaf, gue gak bisa,” jawab Luna, bembuat senyum yang tadinya bertengger di bibir Alva luntur.
“Kenapa?” tanya Alva lagi.
“Pertama, kita baru kenal beberapa hari. Kedua gue gak suka sama loe. Dan yang ketiga gue belum tahu loe orangnya seperti apa. Jadi gak ada alasan untuk gue nerima loe.”
Penjelasan panjang lebar dari Luna membuat Alva kecewa. Hal ini merupakan sebuah penghinaan untuk Alva, karena selama ini belum pernah ada orang yang menolak Alva. Tetapi Alva mencoba memberikan sebuah senyuman kepada Luna, walaupun sulit.
“Kalau gitu gue minta maaf, karena udah ganggu waktu loe,” kata Alva lesu.
“Heemm,” dehem Luna sebagai jawaban.
Alva pergi dari hadapan Luna dengan hati yang tercerai berai.
“Good mine.”
Sebuah suara mengagetkan Luna. Luna sangat hapal dengan pemilik suara itu. Zain ya pemilik suara itu adalah Zain Xeimoraga.
“Ingat ini sekali lagi, you are mine baby,” kata Zai dengan suara rendah.
Perkataan Zain membuat bulu kuduk Luna meremang. Dengan cepat Luna berlari pergi dari taman belakang.
Melihat hal tersebut membuat Zain tersenyum geli melihat tingkah gadisnya. Ya Luna hanya miliknya seorang. Dan jika ada orang lain yang merebut Luna darinya, Zain gak akan tinggal diam.
🚫🚫🚫
“Bagaimana pun caranya, loe harus bisa bawa Luna ke tempat yang sudah kita rencanakan.”
“Tapi ginama caranya?”
“Ya itu sih terserah loe. Pokoknya kalau loe gak berhasil bawa Luna ke sini, rahasia loe bakal gue sebarin.”
Ancaman tersebut sontak membuatnya mengangguk patuh. Sebenarnya dia tak tega ngelakuin hal ini kepada Luna. Meskipun dia masih sakit hati dengan penolakan Luna tempo hari. Tetapi orang yang ada di hadapannya ini berhasil membuatnya patuh karena satu ancaman. Yaitu rahasia yang sudah dia simpan rapat-rapat dari dulu. Dan sekarang, entah dari mana orang ini tahu rahasianya.
Tutt…tutt..
“Halo Alva, mau apa loe nelepon gue?” tanya seseorang di sebrang sana.
“Halo, Luna. Loe bisa gak temuin gue di taman belakang dekat gudang sekolah,” pintanya.
“Mau apa?” tanya Luna lagi.
“Ada hal yang mau gue omongin sama loe.”
“Hal apa?”
“Pokoknya penting, gue tunggu.”
Alva mematikan teleponnya secara sepihak. Hal itu membuat Luna mengerutkan keningnya bingung.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Luna pergi ke taman belakang dekat gudang sekolah untuk menemui Alva.
Luna tiba di tempat yang dituju, tapi tak dia tak menemukan Alva disana.
“Kemana sih tuh Alva!” mencak Luna
Tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya. Setelah itu semuanya gelap.
Byurr…
“Bangun!” bentak seseorang.
Luna terbangun dengan tubuh basah dan tangan terikat kebelakang.
“Gue di mana?” tanya Luna bingung.
Dengan pencahayaan yang kurang, Luna masih mencoba melihat orang yang tadi sudah menyiramnya. Dan alangkah terkejutnya Luna setelah tahu siapa orangnya.
“Ra..ra…, kenapa loe lakuin ini ke gue?” tanya Luna.
“Kenapa? Kenapa loe bilang? Ha…ha…haa.. loe itu munafik tahu gak si? Loe udah hancurin hidup gue, loe juga udah rebut cowok yang gue cinta.” jawabnya sambil berteriak.
” Bahkan orang tua gue pun selalu ngebandingin gue sama loe. Dan gue sakarang udah muak dengan semua itu. Pertama Zain, dan sekarang loe juga mau ambil orang tua gue?” lanjutnya dengan emosi.
“Gue gak tahu Ra, maaf gue bener-bener gak tahu.” jawab Luna sambil menangis.
“Gak tahu! Sahabat macam apa loe?” tanya Rara. Ya orang yang sudah merencanakan ini adalah Rara. Dia adalah orang yang sudah menyuruh Alva untuk membawa Luna.
Plak…..
Rara menampar keras pipi mulus Luna. Luna meringis perih atas perlakuan Rara padanya. Perih dipipinya tak seberapa, tapi hatinya lebih perih ketika orang yang sudah kita anggap saudara malah memperlakukan kita seperti ini. Ketika Rara akan menampar Luna kembali, tangan Rara dicekal oleh seseorang.
“Udah Ra, jangan sakitin dia lagi,” larangnya.
“Loe apa-apaan si Al, cewek ini sekali-kali harus diberi pelajaran.”
“Tapi gak gini juga caranya,” sergah Alva.
“Seharusnya loe seneng dong, dia ini udah mempermaluin loe.” kompor Rara.
Brakk….
Mereka terkejut ketika tiba-tiba pintu gudang didobrak dengan keras oleh seseorang.
“Zain kenapa loe bisa ada di sini?” tanya Rara panik.
“Loe dari dulu gak pernah berubahnya Ra, tetap bodoh.” hardik Zain.
“Kenapa loe bisa tahu tempat ini?” tanya Rara lagi.
“Seharusnya kalau loe ingin celakain Luna, setidaknya loe harus pastikan Luna gak ada dalam jangkauan gue,” ujar Zain sinis.
Bugg..bugg..
Tiba-tiba Alva menyerang Zain dengan brutal. Zain yang merasa tidak terima, membalas pukulan Alva tak kalah kuat. Sehingga terjadilah pertandingan sengit antara keduanya.
Luna hanya bisa diam melihat perkelahian tersebut. Dia tidak tahu apa yang harus ia dilakukan.
“Diam! Diam loe berdua! Kalau gak gue bakal tembak Luna, ” perkataan Rara sontak membuat keduanya terkejut.
“Apa yang loe lakuin hah?” hardik Zain.
“Ha..ha…ha… kenapa? Loe gak rela dia mati?” kata Rara sambil menunjuk Luna.
“Ra loe gila! Luna itu masih sahabat loe,” kata Alva.
“Gue gak peduli. Dia harus mati. Karena dia udah ngerebut loe dari gue.” kata Rara kepada Zain.
“Siapa yang merebut gue dari loe? Seharusnya loe sadar diri, dari dulu gue gak pernah suka sam loe dan gak akan pernah suka.” Kata-kata Zain membuat Rara semakin murka, tanpa sadar Rara menarik pelatuknya.
Dorrrr
“ALUNAAA…..”
Tamat